Jumat, 19 September 2014

[Cerpen] Bukan



“Kakak, telponin mama sama papa dong.. Suruh mereka pulang, cepetan.. Pokoknya kalo mama sama papa belom pulang aku nggak mau sekolah TITIK!”

“Sabar dek, mama kan lagi nemenin papa dinas di luar kota.”

“Bodo amat! Pokoknya mama papa pulang”, bentak Rika pada kakaknya, kak Ijah.

Sudah hampir satu bulan orang tua mereka tak kunjung pulang, hanya uang dan telepon yang selalu  mereka berikan sebagai pengganti kasih sayang yang biasanya setiap hari mereka berikan. Mendengar perkataan adiknya, Kak Ijah kemudian menelpon orangtuanya.

“Ma, kerjaan papa udah selesai belom? Rika tadi ngambek nggak mau sekolah gara-gara mama papa belom pulang.”

“Ya ampuunn tuh anak udah SMA juga, kelakuan masih kayak anak kecil. Yaudah besok mama sama papa pulang.”

Usia Rika sudah menginjak 16 tahun, dia sudah duduk di bangku SMA, namun tabiatnya masih seperti anak SD. Kak ijah selalu memakluminya, meskipun hal itu seringkali menjengkelkan hatinya. Ia tahu, sejak kecil Rika selalu dimanja. Apa yang diminta, selalu diberi.

Hari ini jadwal kuliah Kak Ijah dimulai jam 10. Dia segera membereskan kamar dan memasukkan peralatan kuliahnya ke dalam tas. Tiba-tiba telepon berbunyi. Kak Ijah yang mengangkat. Tanpa disangka, air mata Kak Ijah mengalir begitu deras dalam seketika setelah mendengar orang itu berbicara di telepon. Tubuhnya lemas. Wajahnya spontan pucat.

“Kenapa sih kak? Telepon dari siapa?”

            Kak Ijah langsung berderap menuju adiknya, memeluk Rika.

“Mama sama papa kecelakaan dek, mereka meninggal dalam kecelakaan itu.”

             
Rika syok, air matanya tak dapat dibendung lagi. Tak ada kata yang terucap saat itu, hanya air mata dan kesedihan yang terpancar. Beberapa lama kemudian Kak Ijah tersadar dari tangisannya. Ia menghapus air mata di pipinya. Matanya sembab.

“Dek ayo kita ke rumah sakit, kita urus pemakaman mama sama papa”, kata Kak Ijah sambil berlalu keluar meninggalkan rumah, lalu diikuti Rika dibelakangnya.

          
Sejak mama papanya meninggal, Rika menjadi sering murung dan marah-marah. Dia melimpahkan segala kekesalannya kepada kakaknya.

“Ya ampuunn dek, berantakan banget kamarmu. Cepet beresin gih.”

“Nggak mau. Lo aja yang beresin, kan lo yang kakaknya.”

“Astaghfirullah.. Kamu ini males banget jadi cewek”, kata Kak Ijah sambil membereskan kamar Rika, yang punya kamar masih sibuk dengan handphone.

“Dek besok sekolah kan?”

“Iya. Bawel banget sih jadi orang.”

Setelah selesai merapikan kamar, Kak Ijah bergegas keluar. Lalu terduduk di depan kamar Rika, meneteskan air mata yang sebenarnya tak ingin ia keluarkan. “Apa ini salahku?”, gumamnya dalam hati.


Semenjak kepergian orangtuanya, Kak Ijah memutuskan untuk berhenti kuliah. Ia mencari uang dengan berjualan kue di depan rumahnya. Walaupun hasilnya tak seberapa, tapi setidaknya mereka dapat menyambung hidup. Namun keadaan seperti ini masih belum dimengerti oleh Rika.


“Eh bagi duitnya dong, gue mau jalan nih sama pacar gue.”

“Astaghfirullah dek.. Pacaran itu kan dilarang, nggak boleh. Lagian kuenya juga baru laku sedikit, nanti aja duitnya.”

“Ah pelit banget sih lo, minta duit aja nggak dikasih. Pake sok-sok jadi penasehat gue lagi. Inget yah, lo itu punya kewajiban buat ngasih gue nafkah, ngasih gue duit! Dan satu lagi, gak usah sok nasehatin gue! Gue bukan anak didik lo! Ngerti? Ohya, sini duitnya”

             
Mau tak mau, Kak Ijah memberikan uang simpanannya kepada Rika. Uang yang ia kumpulkan dan ia tabung kini telah lenyap.


Hari ini hari minggu. Seperti biasa, hari ini jadwalnya beres-beres rumah. Merasa tak sanggup mengerjakan semuanya sendiri, Kak Ijah mengetuk pintu kamar Rika bermaksud meminta bantuan.

Tok tok tok.. ckrek


“Dek, bantuin kakak yuk beresin rumah. Kakak capek nih , nggak sanggup kalo kakak sendiri.”

“Aduh, lo kayak tua renta aja udah nggak sanggup ngapa-ngapain lagi. Lo mau jadi fakir miskin yang minta dikasihani?”

             
Kak Ijah diam terpaku melihat kelakuan adiknya. Tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Tiga bulan kepergian mama papanya, tiga bulan juga kondisi seperti ini terjadi. Terlintas di pikiran Kak Ijah untuk meninggalkan adiknya, tapi bagaimana caranya? Bagaimana dengan nasib adiknya nanti?


“Ah, baru kuingat. TKW. Aku akan pergi mencari uang ke negeri orang. Setidaknya aku mengobati sakit hatiku oleh Rika. Biarlah ia kukirimi uang nanti”, pikirnya.

            
Segera ia mengeluarkan ponsel dan menelpon temannya, meminta didaftarkan sebagai TKW Malaysia.

             
Tiba waktunya, sore ini para TKW akan berangkat menuju negeri tetangga. Kak Ijah sudah siap, pagi ini mereka berkumpul di kantor penyalur tenaga kerja. Sebelum berangkat ia menulis sesuatu.


Aku bukanlah ibumu, yang seharusnya kau hormati.

Aku bukanlah penasihatmu, yang seharusnya kau dengarkan ocehannya.

Aku bukanlah tua renta, yang seharusnya kau bantu.

Aku bukanlah fakir miskin, yang seharusnya kau kasihani.

Aku budakmu yang ingin dipanggil kakak.

Atau aku kakakmu yang kau ingin jadikan budak.



Jaga dirimu baik-baik.

             
Sore hari Rika pulang, perutnya sudah lapar. Ia tiba di depan rumah, melihat tidak ada dagangan kakaknya terpajang di depan rumah. “Kak Ijah nggak jualan? Dari mana dapet uang?”, ujarnya. Kemudian ia masuk ke kamar Kak Ijah namun tak ada orang. Hanya selembar kertas di atas tempat tidur. Diraihnya kertas itu, lalu dibaca. Matanya berkacakaca, ia tersadar. Seperti semua setan yang sedang merasukinya telah keluar.


“Begitu kasarnya aku ini, bodoh sekali. Aku sudah kehilangan orangtua, dan kini aku menyia-nyiakan kakakku sendiri.” Sesal Rika

             
Segera ia mencari sesuatu, apapun untuk mencari Kak Ijah. “Kemana Kak Ijah?” Itu pertanyaannya. Akhirnya Rika menemukan sepucuk kertas bertuliskan alamat penyalur tenaga kerja yang terletak di atas meja. Bergegas ia keluar, menyusul kakaknya.

             
Setibanya di kantor itu, Rika menemui pengurus tenaga kerja (TKW). Ia bertanya adakah kakaknya dalam rombongan itu? Dan ternyata benar ada, namun sayangnya mereka sudah pergi 2 jam yang lalu.

             
Sungguh menyesal Rika, ia pulang dengan luka yang mendalam. Hari-harinya selalu muram. Lalu terbesit di kepalanya,

“Untuk apa aku seperti ini? Membuang waktu sia-sia. Seharusnya aku merubah diriku, merubah sikapku.”

            
Lalu ia teringat kakaknya. Otak modern anak muda mulai beraksi, dikirimnya e-mail untuk kakaknya di Malaysia.


Kak, aku minta maaf atas semua kesalahan dan perbuatanku selama ini.

Aku janji aku akan berubah.

Kutunggu kakak di Jakarta, di rumah kita.



                                  Peluk sayangku, adinda tercinta

                                  Rika







***